Sabtu, 02 April 2011

VGA (Video Graphics Adapter)

VGA (Video Graphics Adapter)



Apa itu VGA?
Mungkin beberapa dari kita ada yang sudah mengetahui apa itu VGA,namun ada juga beberapa dari kita yang sama sekali tidak mengetahui apa itu VGA,nah disini saya akan mengupas sekelumit apakah VGA itu apa,kegunaan nya serta beberapa cerita tentang persaingan dua raksasa produsen VGA.
 Graphics card, video card, atau VGA (Video graphic Adapter) Card adalah perangkat Output yang bertugas untuk mengolah data menjadi tampilan grafis atau teks di layar monitor. VGA berfungsi menghubungkan sistem komputer dengan monitor. VGA card membutuhkan aplikasi pendukung yaitu driver. Driver ini berfungsi sebagai perantara sistem operasi dan kartu grafis.
Komponen-komponen VGA card:
  1. GPU (Graphics Processing Unit)
    GPU adalah prosesor dari sebuah video card, dan berfungsi untuk pengolahan data gambar yang akan ditampilkan di layar monitor.
  2. Video Memory (VRAM)
    Berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum dan sesudah pemrosesan data pada GPU. Saat ini, umumnya berkapasitas antara 256MB sampai 2048MB.
  3. RAMDAC (Random Access Memory Digital – Analog Converter)
    Berfungsi mengubah gambar digital menjadi sinyal analog agar bisa digunakan oleh monitor.
  4. Bus Interface
    Berfungsi menghubungkan motherboard dengan kartu grafis. Saat ini, standarnya adalah PCI-Express.
  5. Display Interface
    Berfungsi menghubungkan kartu grafis dengan monitor. Ada banyak port display, namun, yang biasanya sering digunakan antara lain, D-Sub, DVI, dan HDMI.
  1. Heatsink Fan
    Berfungsi untuk mendinginkan GPU.
Terdapat 2 macam VGA card:
  1. VGA On-Board
    VGA yang sudah terintegrasi pada MotherBoard. VGA On Board menggunakan RAM sebagai Memory VGA.
  2. VGA Add-On
    VGA yang terpisah dengan motherboard yang memiliki bus interface semacam AGP atau PCI. Pada VGA Add On sudah memiliki Processor (GPU) dan Memory sendiri.
Cara Kerja VGA card
Saat aplikasi yang dijalankan ingin menciptakan sebuah citra, aplikasi tersebut akan meminta bantuan pada driver kartu grafis. Driver grafis akan mendengarkan instruksi, baik dari OS atau dari aplikasi, kemudian mengambil data digital yang diperlukan dan mengkonversikannya menjadi sebuah format yang dimengerti oleh kartu grafis tersebut.
Setelah itu, driver menyalurkan data digital yang baru diformat tersebut kepada kartu grafis untuk melakukan rendering. Data tersebut berjalan menuju kartu VGA melalui slot pada motherboard (AGP/PCI-E).
Setelah disalurkan ke kartu grafis, data akan dikirimkan ke memori kartu grafis sebagai tempat penyimpanan sementara. Kemudian GPU akan mengambil data digital tersebut lalu mengubahnya menjadi pixel.
Pada titik ini, pixel belum siap untuk ditampilkan ke layar. Pixel tersebut akan dikirim kembali ke Video RAM untuk disimpan. VRAM terhubung langsung pada RAMDAC yang bertugas menterjemahkan image ke signal analog agar bisa digunakan oleh monitor. Selanjutnya, RAMDAC mengirimkan gambar final kepada monitor melalui display interface, kabel, hingga ke monitor.
Jika kita hendak memilih VGA,kita hal pertama yang harus kita lihat adalah besarnya memory dari VGA itu,karena makin besar memori yang dipunyai,makin jelas dan halus juga display yang akan dihasilkan.
Saat ini,dunia VGA Dipegang oleh 2 produsen besar yaitu ATI oleh ATI Technologi inc. Dan Nvidia yang mengeluarkan berbagai seri Nvidia.Kedua perusahaan tersebut saling bersaing ingin membuktikan produk siapa yang paling sempurna.Masing masing pabrikan memiliki produk unggulan,dimana ATI mengunggulkan ATI Radeon dan Nvidia mengandalkan Nvidia GeoForce.Kedua produsen tersebut juga bekerja sama dengan berbagai produsen pc untuk menyematkan masing-masing kartu grafisnya sebagai 1 paket penjualan.Tidak hanya itu saja,mereka berlomba-lomba untuk dapat berkombinasi dengan produsen game,yang notabenya dalam sebuah game,kejelasan,kejernihan,kehalusan gambar akan menjadikan nilai tambah dari game itu sendiri.Tetapi,untuk saat ini para produsen game lebih banyak menggunakan Nvidia untuk VGA mereka dan ini juga bukan berarti ATI kalah dari Nvidia.
Dibawah ini urutan hirarkir VGA atas kemampuan 2 produsen berbeda. Dapat dijadikan referensi untuk membeli VGA, apakah memilih produk Nvidia atau ATI dengan urutan  performa


GeForce
Radeon

Discrete: HD 5970
Discrete: GTX 295, GTX 480
Discrete: HD 4870 X2

Discrete: HD 5870
Discrete: GTX 470
Discrete: HD 4850 X2
Discrete: GTX 280, GTX 285
Discrete: HD 5850
Discrete: 9800 GX2, GTX 260, GTX 275
Discrete: HD 4870, HD 4890, HD 5770, HD 5830
Mobility: HD 5870
Discrete: 8800 Ultra, 9800 GTX, 9800 GTX+, GTS 250
Discrete: HD 3870 X2, HD 4850, HD 5750
Mobility: HD 4850, HD 5850
Discrete: 8800 GTX, 8800 GTS 512 MB
Go (mobile): GTX 280M, GTX 285M
Discrete: HD 4770
Mobility: HD 4860
Discrete: 8800 GT 512 MB, 9800 GT
Go (mobile): 9800M GTX, GTX 260M (112), GTS 360M (GDDR5)
Discrete: HD 4830, HD 5670
Mobility: HD 5770, HD 5750
Discrete: 8800 GTS 640 MB, 9600 GT, GT 240 (GDDR5)
Go (mobile): 9800M GTS, GTX 160M
Discrete: HD 2900 XT, HD 3870
Discrete: 8800 GS, 9600 GSO, GT 240 (DDR3)
Go (mobile): GTX 260M (96), GTS 150M, GTS 360M (DDR3)
Discrete: HD 3850 512 MB, HD 4670, HD 5570
Mobility: HD 3870, HD 5730, HD 5650
Discrete: 8800 GT 256 MB, 8800 GTS 320 MB, GT 220
Go (mobile): 8800M
Discrete: HD 2900 PRO, HD 3850 256 MB
Mobility: HD 3850
Nah disini saya juga akan menceritakan sedikit tentang sejarah persaingan dua raksasa produsen VGA ini, Di mata para gamer hanya ada 2 produsen chip grafis yang mereka lirik, yaitu Nvidia dan ATI. Baik Nvidia maupun ATI memiliki penggemarnya sendiri. Para fans ATI selalu menganggap bahwa kualitas gambar yang dihasilkan videocard ATI lebih baik dibanding Nvidia. Sedangkan di kubu Nvidia, penggemarnya menyatakan sebaliknya. Betulkah kualitas gambar videocard ATI saat ini lebih baik daripada Nvidia? 

Anggapan mengenai lebih buruknya kualitas gambar videocard Nvidia sebenarnya muncul di tahun 2003, tepatnya ketika Nvidia meluncurkan seri Geforce FX seri 5000 yang notabene sebuah blunder fatal yang tercatat sebagai sejarah hitam di perjalanan karir Nvidia. Buruknya kinerja Geforce FX saat itu membuat Nvidia melakukan trik untuk meningkatkan kinerja dengan menurunkan kualitas gambar. Hal ini justru semakin memperburuk reputasi mereka dan membuka peluang bagi ATI untuk merebut singgasana. Saat itu chip grafis andalan ATI yaitu Radeon seri 9000 terbukti mampu mengalahkan Geforce FX dalam kinerja maupun performa. Di saat itulah anggapan bahwa kualitas gambar videocar ATI lebih baik daripada Nvidia mulai tertanam di hati sanubari para gamer.
Namun kini 8 tahun telah berlalu, dan Nvidia telah melewati mimpi buruknya. Dimulai dari peluncuran Geforce seri 6000 yang membanggakan Shader Model 3, Nvidia mulai berusaha mengalahkan ATI dalam hal kualitas gambar. Di era 2005, Geforce seri 6000 mampu menoreh keunggulan dalam hal dukungan Shader Model 3 dibanding ATI X300/700/800 yang saat itu belum mensupport fitur tersebut.
Sadar akan kelemahan terserbut, di tahun 2006 ATI akhirnya juga memberikan dukungan Shader Model 3 di seri X1000 mereka, sehingga potensi bagi videocard Nvidia dan ATI untuk menghasilkan kualitas gambar yang baik kini sama.
Menyadari hal itu, Nvidia sebagai produsen chip grafis no. 1 tentu tak mau tinggal diam. Serangkaian cara mereka lakukan untuk lebih unggul dibanding ATI. Bila di era 2003 mereka melakukan trik penurunan kualitas gambar yang berujung menjadi sebuah blunder fatal, kini mereka mencari cara lain yang lebih cerdas untuk mengalahkan kualitas gambar videocard ATI. Cara tersebut adalah dengan berkonspirasi bersama para game developer untuk menjatuhkan ATI.
Sebagai produsen chip grafis no.1, Nvidia memiliki segudang uang untuk diselipkan di celah-celah kantong para programmer & game developer. Dengan begitu game buatan mereka akan berpihak ke kubu Nvidia. Atau dengan kata lain kualitas gambar game tersebut akan menjadi lebih buruk bila dijalankan pada videocard ATI.

Nvidia cukup serius dalam menjalankan strategi konspirasi ini. Bahkan mereka mempropagandakan strategi ini sebagai TWIMTBP (The Way It’s Meant To Be Played).
Bila sebuah game menyandang logo TWIMTBP, berarti game tersebut dibuat dengan campur tangan Nvidia di dalamnya, dan sudah dipastikan kualitas gambar / kinerja terbaik hanya akan didapat bila menggunakan videocard Nvidia. Secara logika saja, tentu mustahil bila sebuah game yang disponsori Nvidia ternyata tampilannya sama baiknya bila menggunakan ATI.
Para fans ATI sering berdalih bahwa masalah kompatbilitas/kualitas gambar pada beberapa game adalah masalah driver yang dapat dihilangkan dengan update driver ATI Catalyst, mereka tak menyadari bahwa problem tersebut sebenarnya adalah problem yang berasal dari gamenya dan sengaja dibuat oleh game developernya bagi pengguna ATI. Jadi update driver ATI tidak akan memperbaiki problem tersebut.
Tampaknya strategi konspirasi ini dianggap cukup berhasil oleh Nvidia, sehingga mereka kian hari kian agresif dalam merangkul para game developer. Hingga saat ini, nyaris 90% game yang beredar di pasaran dibuat dengan campur tangan Nvidia di dalamnya.gapan mengenai kualitas gambar videocard ATI lebih unggul daripada Nvidia pupus sudah. Dalam prakteknya, kualitas gambar pada image videocard ATI terlihat lebih buruk dan bermasalah di banyak game.
Hal ini sebenarnya bukan karena ketidak becusan ATI membuat chip grafis, namun karena kelihaian Nvidia dalam menggandeng game developer untuk mensabotase kualitas gambar videocard ATI di banyak game.
Apakah sabotase yang dilakukan Nvidia merupakan kecurangan?
Di mata konsumen, tindakan yang dilakukan oleh Nvidia bukanlah sebuah kecurangan. Sebab konsumen tetap mendapat kualitas gambar terbaik bila menggunakan videocard Nvidia. Nvidia juga sudah memperingatkan di awal game dengan adanya logo atau peringatan bahwa tampilan terbaik hanya akan didapat bila menggunakan videocard Nvidia.
Jadi bila ada pengguna videocard ATI yang kecewa karena “rusaknya” kualitas gambar, itu karena salah mereka sendiri kenapa tidak menggunakan videocard Nvidia untuk bermain game tersebut.
Jamuan makan malam dan berbagai suguhan kenikmatan lainnya membuat para game developer akhirnya rela melakukan apa saja untuk menjatuhkan ATI.
Konspirasi dengan game developer tampaknya merupakan strategi jitu yang dilakukan sang CEO sekaligus pendiri Nvidia yaitu Jen-Hsun Huang.
Dengan konspirasi Nvidia bersama game developer, maka sehebat apapun ATI berinovasi untuk meningkatkan kualitas grafis videocard mereka, hasilnya tetap akan sia-sia saja karena game yang dirilis ternyata tidak memanfaatkan keunggulan yang dimiliki videocard ATI, bahkan kualitas gambar pada videocard ATI malah sengaja diturunkan dengan munculnya berbagai problem.
Dalam perang kualitas gambar, ATI menggembar-gemborkan keunggulan Radeon seri X1xxx dibanding Geforce seri 7 dalam hal kemampuan menjalankan FSAA+HDR secara berbarengan. Sekalipun penggunaan FSAA+HDR akan menurunkan performa secara signifikan sehingga hanya layak diterapkan pada videocard 2 juta, namun Nvidia tentu mewaspadai keunggulan ATI dalam hal ini. Oleh karena itu beberapa game sengaja dirancang (atas pesanan Nvidia) agar tidak bisa menjalankan FSAA+HDR secara berbarengan sekalipun menggunakan ATI X1xxx (misal: Splinter Cell Chaos Theory). Tak hanya itu saja, beberapa game ternyata juga mampu menjalankan FSAA+HDR sekalipun menggunakan Geforce seri 7 (misal: Half Life 2, NFS Most Wanted). Di sini terlihat bahwa keunggulan fitur hardware dapat dimentahkan oleh design programming game. Melalui design programming game itulah Nvidia bersama pembuat game menurunkan (mensabotase) kualitas gambar pada videocard ATI.
Disini terbukti bahwa kenggulan teknis mampu dikalahkan oleh strategi bisnis.
Pepatah lama di dunia balap jalanan mengatakan : “Tidak perlu repot-repot merancang mobil paling cepat bila anda tahu cara jitu untuk menggembosi ban mobil lawan”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar